Andri Yusva Setiawan (Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan)
Kalau bicara soal sekolah yang bagus, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Mungkin gedung yang megah, fasilitas yang canggih, atau deretan piala di lemari kaca. Padahal, kunci utama kesuksesan sebuah institusi pendidikan ada pada sosok pemimpinnya.
Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah sebuah kebanggaan jabatan, melainkan amanah yang sangat berat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesadaran akan hadis inilah yang seharusnya membuat kepala sekolah masa kini tidak lagi bergaya kaku, duduk di ruang tertutup, dan sekadar memberi perintah. Ia harus turun langsung dan memastikan kesejahteraan guru serta anak didiknya dengan penuh empati.
Gaya memimpin yang otoriter dan marah-marah sudah tidak relevan. Al-Qur’an sendiri sangat melarang pendekatan yang menakutkan ini. Allah SWT berfirman dalam potongan Surat Ali ‘Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” Potongan ayat ini adalah sebuah pengingat telak bahwa kepala sekolah yang berhati kasar hanya akan membuat guru tertekan dan murid merasa tidak nyaman belajar di sekolah tersebut.
Tantangan terberat kepala sekolah adalah menyatukan banyak kepala dengan karakter yang berbeda-beda. Di ruang guru, ada guru senior yang sudah puluhan tahun mengajar, bersanding dengan guru muda yang melek teknologi. Kepala sekolah yang hebat paham betul akan prinsip humanis:
أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
“Tempatkanlah manusia sesuai dengan kedudukannya (kapasitasnya)” (HR. Abu Dawud).
Seni memanusiakan manusia inilah yang disebut kepemimpinan situasional. Kalau ada guru baru yang masih bingung mengajar, pemimpin yang baik tidak akan membentaknya, tapi sabar menuntunnya. Sebaliknya, kalau ada guru senior yang sedang lelah secara mental, kepala sekolah harus melepas jubah kekuasaannya dan hadir sebagai teman curhat yang mendengarkan, bukan menghakimi.
Pendidikan kita saat ini memang menuntut sistem modern yang serba cepat, serba digital, dan berorientasi pada target. Ini bagus, tapi kepala sekolah yang cerdas akan memadukan sistem yang kaku ini dengan kehangatan tradisi pendidikan salaf (pesantren). Di dunia pesantren, kesejahteraan tidak melulu soal uang atau sertifikasi, melainkan ikatan kasih sayang (mahabbah) antara kiai dan santrinya. Kepala sekolah bisa meniru ini dengan meluangkan waktu menjenguk keluarga guru yang sakit atau mengadakan makan bersama untuk merekatkan persaudaraan.
Pada akhirnya, sehebat apa pun seorang kepala sekolah, ia akan gagal jika bekerja sendirian. Islam mengajarkan prinsip kolaborasi lewat kelanjutan Surat Ali ‘Imran ayat 159 tadi:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
Kesuksesan harus dibangun lewat diskusi dari hati ke hati, merangkul para guru, melibatkan orang tua, dan transparan dalam mengelola dana pendidikan. Sebab, sekolah yang unggul lahir dari kepemimpinan yang tulus dan memanusiakan manusia.